Pelajar
Zaman dahuluvs. Pelajar Saat ini
By : Mayrinda E.D
1. 1. Sarana dan Fasilitas
Pelajar di era modern
saat ini sudah sangat dimudahkan dengan segala fasilitas yang sudah disiapkan
dan tinggal pakai. Contoh kecil yang sangat menonjol saat ini adalah,
adanya cleaning service disetiap sekolah sehingga pembagian jadwal piket kelas
ditiadakan. Memang tujuanya untuk meningkatakan konsentrasi siswa dalam
belajar. Satu sisi mereka lebih nyaman dengan keadaan kelas yang sudah bersih
tanpa harus menyapunya terlebih dahulu, disisi lain mereka telah kehilangan
satu bagian manajemen jadwal piket mingguan. Ya, dewasa ini baik pemerintah
maupun pihak sekolah senantiasa meningkatkan kualitas pendidikan dan sarana-prasarana.
Namun apa yang menonjol dari semakin baiknya sara sekolah, yaitu sikap siswa
yang acuh-takacauh, tidak memiliki kepedulian pada lingkungan, bahkan rasa senasib
dan seperjuangan antar siswa yang saling menuntut ilmu pun hilang. Dapat
dibuktikan dengan maraknya video pertikaian antar pelajar, bahkan seorang siswa
berani menjebloskan gurunya kedalam penjara. Memang tidak semua siswa berbuat
sedemikian, adapula siswa yang mampu meraih juara hingga kancah internasional,
menemukan tenaga pembaharu, dan sebagainya.
Melakukan suatu langkah
perubahan selalu diikuti oleh rasa dilema antara baik dan buruknya sebuah
tindakan. Mengapa pelajar zaman dahulu dengan fasilitas sekolah yang serba
pas-pasan dan apa adanya justru terbentuk rasa kepedulian yang tinggi antar
sesama nya, dan mengapa pelajar sekarang dengan segala fasilitas yang serba ada
dan serba mudah justru memiliki rasa individualistis dan apatis yang lumayan
tinggi. Jika ditinjau, diatahun 1900 an siswa putus sekolah dikarenakan
keterbatasan biaya, dikarenakan sakit, ataupun dipaksa menikah oleh orang
tuanya. Namun siswa yang putus sekolah di era sekarang ini kebanyakan karena
hamil diluar nikah, karena ksus kriminal, bahkan ada pula alasan kerena malas
pergi ke sekolah. Dari sini terlihat perbedaan moral siswa zaman dahulu dengan
sekarang ini. Seharusnya di masa sekarang siswa tidak lagi memiliki alasan
untuk tidak melanjutkan sekolah memenuhi batasan wajib belajar, dimana biaya
sekolah yang digeratiskan dan tersedianya beasiswa yang melimpah. Sarana dan
prasarana pun juga semakin baik. Berbeda dengan zaman dahulu, untuk membeli
seragam pun sangat sulit, sehingga mereka memakai seagam bekas saudaranya
atauapun bekas tetangganya.
2. 2. Keseharian
Keseharian hidup
pelajar zaman dahulu dengan zaman sekarang tentunya sudah sangat berbeda.
Mereka yang hanya makan nasi dengan tempe tahu setiap harinya sudah berbeda
dengan mereka yang gizi harinaya terpenuhi. Zaman dahulu anak kecil tidak
terlalu diperhatikan pola makan dan kesehatanya, dan saat ini banyak Posyandu
yang memperhatikan pola makan balitanya, imunisasi wajib, bahkan mereka
menyediakan susu geratis setiap bulanya. Keterbatasan hidup siswa zaman dahulu
membuat mereka hanya mengenal orang-orang yang hidup berdekatan diantara
mereka, belum ada jaringan internet yang membuat mereka mengenal manusia di
belahan dunia lain, sehingga tak heran jika manusia zaman itu masih bersikap
kedaerahan, tertutup dan feodalis. Berbeda dengan siswa zaman sekarang yang
sudah mengenal gadget, internet dan sosmed, dunia terasa terbalik, mereka
tertutup dan terkesan individualis dengan orang-orang disekitarnya, mereka
lebih memilih berteman di jejaring sosial dan dunia maya. Pemikiran mereka
lebih terbuka dengan wawasan yang lebih luas.
Sepulang
sekolah kebanyakan pelajar zaman dahulu, dalam hal ini pelajar yang masih duduk
di bangku sekolah dasar dan menengah, bermain dengan temannya, seperti
permainan petak umpet, gedrik, kelereng, beteng, lompat tali dan masih banyak
lagi. Mereka bermain di sekitar rumah mereka, di swah, di pinggiran sungai,
mereka bermain secara berkelompok sehingga diantara mereka tumbuh rasa
persaudaraan yang kuat. Biasanya hal seperti ini membuat mereka bersahabat
hingga mereka tua. Berbeda hal dengan pelajar sekarang, dimana permainan
tradisional sudah mulai pudar bahkan tidak pernah dimainkan. Sepulang sekolah
mereka banyak ditemui di warung kopi untuk mendapaktan Wi-Fi geratis, atau
hanya nongkrong selama berjam-jam disana. Permaianan mereka bukan lagi
permainan berkelompok, permainan mereka sudah tertampug dalam satu wadah yang
disebut sebagai gadged. Mereka tidak memerlukan orang lain untuk menjadi
lawan mainya, hal ini lah yang menciptakan pelajar zaman sekarang menjadi
mansia individualistis.
3. 3. Perilaku Siswa
Pengaruh dari
globalisasi dan mudahnya budaya berkakulturasi turut mendorong dan menciptakan
perubahan perilaku pada siswa. Cepat atau lambat pengaruh budaya tersebut, perilaku
siswa pada zaman dahulu dan sekarang sudah jauh berbeda. Zaman dahulu guru
merupakan sosok yang sangat dihormati bahkan ditakuti, segala perintahnya
senantiasa dilaksanakan,dan mereka akan jera apabilasudah mendapatkan sekali
hukuman. Berbeda dengan zaman sekarang yang muncul diberbagai berita, adanya
sorang siswa yang memasukangurunya ke penjara, dan pembunuhan dosen oleh mahasiswanya.
Terkadang kemajuan kebudayaan membawa dampak negatif dan positif. Kebiasaan
nyata siswa zaman dahulu ialah, ketika guru masuk kelas, maka ketua kelas akan
memimpin seluruh anggotanya untuk melakukan
penghormatan dan salam kepada guru, yang kemudian dilanjutkan dengan
berdoa. Namun kebudayaan tersebut rupanya mulai jarang ditemui sekarang ini,
tak banyak yang tetap bermain hp dan asyik ngobrol bersama temanya tatkala guru
memasuki ruang kelas. Jika diluar kelas ketika bertemu dengan guru, siswa zaman
dahulu mengucapkan salam dan berjabat tangan dengan gurunya, dan yang terjadi
sekarang mungkin hanyalah seorang siswa yang ketika bertemu gurunya hanya
tersenyum tanpa berjabat tangan denganya, bahkan terkadang mereka tidak tahu
siapa nama gurunya.
Rasa kepedulian siswa
zaman dahulu dengan zaman sekarang pun juga sangat berbeda. Siswa zaman dahulu
apabila ada gurunya yang sakit atau temanya, mereka akan bersama-sama datang
utuk menjenguk nya, mereka akan mengumpulkan uang iuran seihklasnya dan
membawakan roti untuk orang yang dijenguknya. Mereka menggap guru adalah
orantua mereka , sehingga mereka senantiasa menghormati dan menyayangi guru
mereka meskipun terkadang guru tersebut keras, siswa zaman dahulu menganggap
hukuman sebagai konsekuensi dari kesalah yang telah mereka perbuat, sehingga
kedepanya mereka akan mengingat kesalahanya dan tidak akan mengulanginya lagi.
Sedangkan rasa kepedulian siswa zaman sekarang sudah muali pudar, tatkala guru
mereka sakit atau teman mereka sakit, mereka menunggu sampai batas tiga hari
untuk menjenguknya, itupun kalau mereka bersedia, ada pula dengan alasan jarak
tempat tinggal yang jauh mereka enggan untuk menjenguk, padahal sarana
transportasi saat ini sudah sangat mudah untuk dijangkau. Mereka menganggap
guru adalah teman mereka, buakn orangtua mereka, ada juga yang memanggil
gurunya dengan nama yang tidak sewajarnya dipakai oleh siswa kepada gurunya,
bahkan saat mereka berbicara dengan sesama temanya, mereka tak segan-segan
mengatai guru tersebut. Kebanyakan siswa zaman sekarang akan mengeluh dan
menggerutu secara terang-terangan apabila diberi tugas yang banyak oleh guru,
bahkan mereka tidak malu jika belum mengerjakan tugas. Mereka menganggap
hukuman adalah hal biasa, bahkan ada yang berani menentang hukuman tersebut,
tak heran jika guru saat ini mengalami kebimbangan akan hukuman dan peraturan
yang berlebihan , sehingga guru cenderung membiarkan muridnya ketika berbuat
yang kuang benar.
Munculnya sikap negatif
pada murid saat ini bukan hanya ditimbulkan oleh diri mereka sendiri, kurangnya
keteladanan guru dalam mendidik muridnya juga bisa menjadi faktor pembentukan
moral yang buruk. Saat guru melarang muridnya untuk merokok justru guru
tersebut merokok, murid dilarang mencontok justr guru memberitahu, dan masih banyak
lagi. Sikap guru yang takut kepada orangtua murid pun juga bisa menjadi
penyebabnya, terutama saat di sekolah swasta dengan biaya pendidikan yang
mahal, murid dianggap sebagai nasabah bank yang haus dihormati dan dilayanai.
Sungguh sangat
disayangkan apabila kebudayaan dan kebiasaan baik di Indonesia justru hilang
dan digantikan dengan kebudayaan barat yang justru dipandang negatif oleh
kebanyakan orang. Sangat disayangkan jika Indonesia yang terkenal karena sifat
ramah harus hilang dan beganti dengan sikap angkuh. Sangat tidak adil rasanya
negara yang berpedoman gotong-royong yang telah dicetuskan Ir.Soekarno harus
luntur dan pudar oleh budaya baru. Sebagai seseorang yang ikut ambil alih dalam
pendidikan marilah menumbuhkan sikap yang mencirikan Negara tercina, Indoneisa,
yang memiliki rasa peduli dan tanggungjawab yang tinggi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terimakasih sudah berkomentar