Cari Blog Ini

Selasa, 30 Mei 2017


Pelajar Zaman dahuluvs. Pelajar Saat ini
By : Mayrinda E.D
1.     1.  Sarana dan Fasilitas
Pelajar di era modern saat ini sudah sangat dimudahkan dengan segala fasilitas yang sudah disiapkan dan tinggal pakai. Contoh kecil yang sangat menonjol saat ini adalah, adanya cleaning service disetiap sekolah sehingga pembagian jadwal piket kelas ditiadakan. Memang tujuanya untuk meningkatakan konsentrasi siswa dalam belajar. Satu sisi mereka lebih nyaman dengan keadaan kelas yang sudah bersih tanpa harus menyapunya terlebih dahulu, disisi lain mereka telah kehilangan satu bagian manajemen jadwal piket mingguan. Ya, dewasa ini baik pemerintah maupun pihak sekolah senantiasa meningkatkan kualitas pendidikan dan sarana-prasarana. Namun apa yang menonjol dari semakin baiknya sara sekolah, yaitu sikap siswa yang acuh-takacauh, tidak memiliki kepedulian pada lingkungan, bahkan rasa senasib dan seperjuangan antar siswa yang saling menuntut ilmu pun hilang. Dapat dibuktikan dengan maraknya video pertikaian antar pelajar, bahkan seorang siswa berani menjebloskan gurunya kedalam penjara. Memang tidak semua siswa berbuat sedemikian, adapula siswa yang mampu meraih juara hingga kancah internasional, menemukan tenaga pembaharu, dan sebagainya.
Melakukan suatu langkah perubahan selalu diikuti oleh rasa dilema antara baik dan buruknya sebuah tindakan. Mengapa pelajar zaman dahulu dengan fasilitas sekolah yang serba pas-pasan dan apa adanya justru terbentuk rasa kepedulian yang tinggi antar sesama nya, dan mengapa pelajar sekarang dengan segala fasilitas yang serba ada dan serba mudah justru memiliki rasa individualistis dan apatis yang lumayan tinggi. Jika ditinjau, diatahun 1900 an siswa putus sekolah dikarenakan keterbatasan biaya, dikarenakan sakit, ataupun dipaksa menikah oleh orang tuanya. Namun siswa yang putus sekolah di era sekarang ini kebanyakan karena hamil diluar nikah, karena ksus kriminal, bahkan ada pula alasan kerena malas pergi ke sekolah. Dari sini terlihat perbedaan moral siswa zaman dahulu dengan sekarang ini. Seharusnya di masa sekarang siswa tidak lagi memiliki alasan untuk tidak melanjutkan sekolah memenuhi batasan wajib belajar, dimana biaya sekolah yang digeratiskan dan tersedianya beasiswa yang melimpah. Sarana dan prasarana pun juga semakin baik. Berbeda dengan zaman dahulu, untuk membeli seragam pun sangat sulit, sehingga mereka memakai seagam bekas saudaranya atauapun bekas tetangganya.
2.    2.   Keseharian
Keseharian hidup pelajar zaman dahulu dengan zaman sekarang tentunya sudah sangat berbeda. Mereka yang hanya makan nasi dengan tempe tahu setiap harinya sudah berbeda dengan mereka yang gizi harinaya terpenuhi. Zaman dahulu anak kecil tidak terlalu diperhatikan pola makan dan kesehatanya, dan saat ini banyak Posyandu yang memperhatikan pola makan balitanya, imunisasi wajib, bahkan mereka menyediakan susu geratis setiap bulanya. Keterbatasan hidup siswa zaman dahulu membuat mereka hanya mengenal orang-orang yang hidup berdekatan diantara mereka, belum ada jaringan internet yang membuat mereka mengenal manusia di belahan dunia lain, sehingga tak heran jika manusia zaman itu masih bersikap kedaerahan, tertutup dan feodalis. Berbeda dengan siswa zaman sekarang yang sudah mengenal gadget, internet dan sosmed, dunia terasa terbalik, mereka tertutup dan terkesan individualis dengan orang-orang disekitarnya, mereka lebih memilih berteman di jejaring sosial dan dunia maya. Pemikiran mereka lebih terbuka dengan wawasan yang lebih luas.
           Sepulang sekolah kebanyakan pelajar zaman dahulu, dalam hal ini pelajar yang masih duduk di bangku sekolah dasar dan menengah, bermain dengan temannya, seperti permainan petak umpet, gedrik, kelereng, beteng, lompat tali dan masih banyak lagi. Mereka bermain di sekitar rumah mereka, di swah, di pinggiran sungai, mereka bermain secara berkelompok sehingga diantara mereka tumbuh rasa persaudaraan yang kuat. Biasanya hal seperti ini membuat mereka bersahabat hingga mereka tua. Berbeda hal dengan pelajar sekarang, dimana permainan tradisional sudah mulai pudar bahkan tidak pernah dimainkan. Sepulang sekolah mereka banyak ditemui di warung kopi untuk mendapaktan Wi-Fi geratis, atau hanya nongkrong selama berjam-jam disana. Permaianan mereka bukan lagi permainan berkelompok, permainan mereka sudah tertampug dalam satu wadah yang disebut sebagai gadged. Mereka tidak memerlukan orang lain untuk menjadi lawan mainya, hal ini lah yang menciptakan pelajar zaman sekarang menjadi mansia individualistis.
3.      3. Perilaku Siswa
Pengaruh dari globalisasi dan mudahnya budaya berkakulturasi turut mendorong dan menciptakan perubahan perilaku pada siswa. Cepat atau lambat pengaruh budaya tersebut, perilaku siswa pada zaman dahulu dan sekarang sudah jauh berbeda. Zaman dahulu guru merupakan sosok yang sangat dihormati bahkan ditakuti, segala perintahnya senantiasa dilaksanakan,dan mereka akan jera apabilasudah mendapatkan sekali hukuman. Berbeda dengan zaman sekarang yang muncul diberbagai berita, adanya sorang siswa yang memasukangurunya ke penjara, dan pembunuhan dosen oleh mahasiswanya. Terkadang kemajuan kebudayaan membawa dampak negatif dan positif. Kebiasaan nyata siswa zaman dahulu ialah, ketika guru masuk kelas, maka ketua kelas akan memimpin seluruh anggotanya untuk melakukan  penghormatan dan salam kepada guru, yang kemudian dilanjutkan dengan berdoa. Namun kebudayaan tersebut rupanya mulai jarang ditemui sekarang ini, tak banyak yang tetap bermain hp dan asyik ngobrol bersama temanya tatkala guru memasuki ruang kelas. Jika diluar kelas ketika bertemu dengan guru, siswa zaman dahulu mengucapkan salam dan berjabat tangan dengan gurunya, dan yang terjadi sekarang mungkin hanyalah seorang siswa yang ketika bertemu gurunya hanya tersenyum tanpa berjabat tangan denganya, bahkan terkadang mereka tidak tahu siapa nama gurunya.
Rasa kepedulian siswa zaman dahulu dengan zaman sekarang pun juga sangat berbeda. Siswa zaman dahulu apabila ada gurunya yang sakit atau temanya, mereka akan bersama-sama datang utuk menjenguk nya, mereka akan mengumpulkan uang iuran seihklasnya dan membawakan roti untuk orang yang dijenguknya. Mereka menggap guru adalah orantua mereka , sehingga mereka senantiasa menghormati dan menyayangi guru mereka meskipun terkadang guru tersebut keras, siswa zaman dahulu menganggap hukuman sebagai konsekuensi dari kesalah yang telah mereka perbuat, sehingga kedepanya mereka akan mengingat kesalahanya dan tidak akan mengulanginya lagi. Sedangkan rasa kepedulian siswa zaman sekarang sudah muali pudar, tatkala guru mereka sakit atau teman mereka sakit, mereka menunggu sampai batas tiga hari untuk menjenguknya, itupun kalau mereka bersedia, ada pula dengan alasan jarak tempat tinggal yang jauh mereka enggan untuk menjenguk, padahal sarana transportasi saat ini sudah sangat mudah untuk dijangkau. Mereka menganggap guru adalah teman mereka, buakn orangtua mereka, ada juga yang memanggil gurunya dengan nama yang tidak sewajarnya dipakai oleh siswa kepada gurunya, bahkan saat mereka berbicara dengan sesama temanya, mereka tak segan-segan mengatai guru tersebut. Kebanyakan siswa zaman sekarang akan mengeluh dan menggerutu secara terang-terangan apabila diberi tugas yang banyak oleh guru, bahkan mereka tidak malu jika belum mengerjakan tugas. Mereka menganggap hukuman adalah hal biasa, bahkan ada yang berani menentang hukuman tersebut, tak heran jika guru saat ini mengalami kebimbangan akan hukuman dan peraturan yang berlebihan , sehingga guru cenderung membiarkan muridnya ketika berbuat yang kuang benar.
Munculnya sikap negatif pada murid saat ini bukan hanya ditimbulkan oleh diri mereka sendiri, kurangnya keteladanan guru dalam mendidik muridnya juga bisa menjadi faktor pembentukan moral yang buruk. Saat guru melarang muridnya untuk merokok justru guru tersebut merokok, murid dilarang mencontok justr guru memberitahu, dan masih banyak lagi. Sikap guru yang takut kepada orangtua murid pun juga bisa menjadi penyebabnya, terutama saat di sekolah swasta dengan biaya pendidikan yang mahal, murid dianggap sebagai nasabah bank yang haus dihormati dan dilayanai.
Sungguh sangat disayangkan apabila kebudayaan dan kebiasaan baik di Indonesia justru hilang dan digantikan dengan kebudayaan barat yang justru dipandang negatif oleh kebanyakan orang. Sangat disayangkan jika Indonesia yang terkenal karena sifat ramah harus hilang dan beganti dengan sikap angkuh. Sangat tidak adil rasanya negara yang berpedoman gotong-royong yang telah dicetuskan Ir.Soekarno harus luntur dan pudar oleh budaya baru. Sebagai seseorang yang ikut ambil alih dalam pendidikan marilah menumbuhkan sikap yang mencirikan Negara tercina, Indoneisa, yang memiliki rasa peduli dan tanggungjawab yang tinggi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkomentar

用印尼语和中文描述玛琅市 DESKRIPSI KOTA MALANG MENGGUNAKAN BAHASA INDONESIA-CINA/MANDARIN

  玛琅市 玛琅是东爪哇省继泗水之后的大城市 .  东爪哇是炎热干旱地区,但与玛琅市不同 .   玛琅是一座四面环山的城市。玛琅的山区地理使这座城市的特点是空气凉爽,气候比较冷。 玛琅通常被称为旅游城市,因为在那儿有很多旅游地方。玛琅市有多种类型的旅游业,包括农业旅游、生态旅游等...